Melahirkan di RSAB Harapan Kita Menggunakan JKN BPJS (Askes dulunya 2)

5 Jul 2014

Setelah diputuskan akan menjalani SC cito pada saat kontrol mingguan, Dokter langsung memberikan surat pengantar ke IGD. Untuk persiapan, misua langsung menuju IGD, dan tak lupa membawa surat rujukan dari RS sari asih dan berharap bisa digunakan. Dari IGD, misua mengatakan kalau semua sudah beres dan secara administrasi saya siap tuk menjalani SC.

Dengan menggunakan kursi roda (meski awalnya saya menolak) saya didorong menuju ruangan ‘tuk persiapan menjalani operasi. Di ruang tersebut saya diambil darah, di tes alergi antibiotik dan (maaf) dicukur oleh suster serta dipasang tuk infus, serta berganti pakaian dengan baju melahirkan tanpa “underwear”. Sebelumnya saya sempat numpang sholat maghrib di ruang bersalin. Seorang suster juga meminta saya ‘tuk menandatangani surat yang intinya saya menyetujui jika bayi tidak menangis pas lahir akan dilakukan tindakan (meski hal ini tidak diharapkan terjadi) dan izin pemberian obat tetes mata saat baru lahir. Jam setengah 8 malam, dengan kursi roda saya diantar suster menuju ruang operasi. Sebelum masuk ruangannya saya berganti pakaian dengan baju ‘tuk operasi (yang warna hijau) dan posisi sudah diatas tempat tidur dorong. Menunggu beberapa saat, dan selanjutnya dikasih waktu oleh suster untuk berdo’a, suami masih ikut sampai di ruangan ini. Lalu saya didorong ke dalam ruangan operasi, ruangannya dan alat-alatnya bagus dan terlihat baru, cukup berbeda dengan sebagian kondisi rumkit yang sudah tua. Oiya, sebelum masuk ruang operasi kita diminta untuk menyiapkan gurita dan kain untuk dipakai setelah operasi.

Sesaat dipindahkan ke meja operasi, suster memasang oxymeter, EKG dan penutup/pembatas pandang sehingga saya tidak bisa melihat proses operasi. Lalu Dokter yang akan melakukan operasi sempat menyapa dan menanyakan kesiapan saya. Insyaallah saya sudah siap. Dokter anestesi menerangkan efek anestesi kepada saya dimana saya tetap dapat merasakan gerakan tapi rasa sakitnya hilang atau tidak terasa dan anestesi yang diberikan hanya anestesi separuh badan dari pinggang ke mata kaki. Sesaat setelah disuntik di pinggang bagian belakang / punggung, rasa hangat mulai menjalar ke kaki, dan anestesinya mulai bekerja. Suster memberikan penghangat di telapak tangan, entah cairan infus atau apa yang ditaruh di telapak tangan, dan ini sangat membantu karena ruang operasi yang sangat dingin dan kondisi saya yang sedang flu. Efek hangat dari anestesi cuma separuh badan, karena tubuh bagian atas saya tetap merasa dingin makanya suster memberikan penghangat tersebut.

Saat semua siap, dokter menyampaikan kalau operasi akan berlangsung dan mengajak saya membaca Bismillah. Sesaat terdengar suara yang menyatakan operasi terhadap pasien bernama bla.bla.bla dst-nya, cukup detail termasuk alasan kenapa harus operasi dan jam dimulai. Saat operasi berlangsung tak lupa saya selalu berdo’a, perut saya terasa digoyang2 dan alhamdulillah tidak berasa sakit. Pukul 20.48 terdengar tangis bayi cukup keras, dokter menggendong dan memperlihatkan bayi ke saya, sambil mengatakan selamat dan bayinya laki-laki dan sempurna. Hamdallah. Baby langsung diobservasi dan ditangani dokter anak (dr. Eddy Jo, SpA). Selanjutnya terdengar suara yang menginformasikan kalau bayi lahir pukul 20.48. Suara yang terdengar mengingatkan saya dengan suara di pengeras suara bandara. Persis, hanya bedanya bahasa yang digunakan bahasa medis.

Setelah itu suasana santai terasa di ruangan. Dokter dan suster sempat ngobrol tentang kunjungan salah satu dokter ke LN dan tentang bersepeda ria di Jakarta. Alhamdulillah beberapa saat setelah itu operasi selesai ditandai kembali dengan suara yang terdengar menyatakan operasi ‘finish’.

Dokter kembali mengucapkan selamat dan mengatakan bahwa operasi sudah selesai dan berjalan baik. Selanjutnya suster “merapikan” saya dan dipindah ke ruang pemulihan. Disini suami dan keluarga lain dapat menemui saya. Anestesi perlahan-lahan mulai hilang, kira2 3 jam setelah operasi.

Ruang Ralat (kelas 1 RSAB Harapan Kita)

Sekitar jam 11 malam, suster di kamar perawatan datang dan menjemput saya. Dengan didorong saya diantar ke ruang perawatan. Kami memilih tetap menggunakan ruang yang sesuai dengan kelas kartu askes/bpjs yang saya punya, yaitu kelas 1. Dalam 1 ruangan terdiri atas 2 pasien, dan alhamdulillah malam itu, pasien sebelah sedang kosong.

Setelah di ruangan perawatan, suami mengantar mertua dan ortu tuk pulang ke rumah, selain penunggu pasien tidak boleh lebih dari 1, bapak ibu yang memang sudah sepuh memang sebaiknya istirahat di rumah, mengingat dari awal hanya berencana tuk konsult tidak tuk langsung SC. Dan sekitar jam 3 dinihari suami sampai lagi di rumkit.

Karena SC akibat oligohidramnion maka observasi baby lebih lama dari biasanya. Setiap bertanya kepada suster kapan baby turun ke ruangan perawatan, selalu dijawab jika sudah selesai di-observasi langsung akan diturunkan ke ruang perawatan Bu. Jam 07.00 baby diantar oleh suster dan baby-nya masih anteng tidur. Tak henti2 slalu dipandangi wajah polosnya. Mendekati siang, baby mulai rewel, haus. Latian mimik belum sukses karena baby masih belum bisa ‘ngenyot’. Alhasil put*ng jadi perih karena proses latihannya lumayan lama.

Jam 10-an, dokter Gde (Yang membantu lahiran) datang memeriksa jahitan, dan alhamdulillah kondisi baik, tidak ada pendarahan. Jam 4 sore, suster mengatakan kalo dilihat dari kondisi urine dll, infus dan kateter sudah bisa dicopot. Alhasil sudah harus pipis ke toilet, tapi alhamdulillah tidak sakit “banget”, cm agak nyeri dikit (tidak seperti yang diceritain orang2, katanya kalau SC suakittt banget saat pertama berdiri/jalan). Sampai2 keluarga pasien yang disebelah heran saat tau kalau saya melahirkan dengan SC (pasien baru di sebelah masuk pagi-pagi, ga jadi kyk vip he,he). Hari kedua baby Agha (yup, namanya Agha) diimunisasi hepatitis B, imunisasi pertamanya.

Hari selasa, kunjungan dokter kembali, dan jahitannya sudah kering dan saya boleh pulang, namun tuk baby Agha harus menunggu kunjungan dokter anak terlebih dahulu. Sesaat setelah itu dokternya Agha datang, dan ternyata Agha terindikasi tinggi bilirubinnya dan disuruh cek darah, jika aman (dibawah 12) boleh pulang. Meskipun ga berharap ini terjadi tapi saya maklum, secara baby Agha belum terlalu bisa mimik langsung, untung saja Bapaknya sudah membelikan pompa, sehingga saya bisa mompa (mengurangi rasa perih juga karena lecet) dan baby Agha diberi asi dengan cara disendok.

Hasil cek darah baru keluar jam 2-an siang, meski suster / bag catering tau kalo kami berencana pulang hari itu (asumsi sebelum jam 12), dan sesuai dengan surat yang ditandatangani dokter spog, namun jatah maksi tetap di kasih ke ruangan, ga pelit ya he.he.

6a21c2d6d7e6066e0883c2e2549d6333_image

Dan ternyata, hasil cek darah diatas sedikit dari yang dibolehkan. Agak bingung, namun mengingat rumah dan rumkit jaraknya jauh, selain itu kalau baby Agha dirawat asupan ASI-nya bagaimana, akhirnya kami putuskan tuk membawa Agha pulang, dengan catatan harus dikasih asi terus dan dijemur. Sebelum pulang kami diminga menandatangani surat yg menyatakan kalau hal ini merupakan keinginan sendiri, intinya rumkit tidak bertanggung jawab jika ada hal2 yang tidak diinginkan. Bismillah, baby Agha akan lebih baik bersama kami dibandingkan harus sendirian di rumkit meski ada suster dan dokter yang memonitor.

Akhirnya Bapak Agha mengurus administrasi, serta mengurus surat keterangan lahir, dan pas balik, beliau mengatakan bahwa jumlah yang harus dibayarkan (biaya total - dibayari bpjs) ternyata NIHIL. Alhamdulillah, rezeki baby Agha. Dan ternyata dari bagian administrasi, Agha juga banyak dapat hadiah (sponsor). Alhamdulillah kembali. Terimakasih juga buat Bapake baby Agha yang “sedikit ngotot” tuk tetap ngurus rujukan, dan ternyata berhasil.

Saat beres-beres tuk pulang, ‘kepala” suster datang mengunjungi kami, beliau mengucapkan selamat dan mohon maaf jika selama saya dan Agha dirawat ada yang kurang berkenan. Wah, cukup terharu, baru kali ini merasakan rumkit dengan pelayanan yang sempurna, baik dokter dan suster. Terimakasih tuk tim Dokter dan suster Harkit, dan terimakasih juga buat BPJS. Niat awal yang akan melanjutkan imunisasi Agha di rumkit dekat rumah sepertinya kembali batal, dah kadung cinta sama rumkit ini, meskipun ‘tuk imunisasi sudah ga bisa pake BPJS lagi.

Sebelum pulang tak lupa tuk minta kenang-kenangan tuk foto bersama suster serta “tetangga” di tempat tidur sebelah.

Alhamdulillah Ya Allah atas nikmat dan karuniaMu. Semuanya Engkau Mudahkan, doa-doa kami Engkau kabulkan. Semoga kami tak lalai atas nikmat ini.


TAGS Harkit melahirkan BPJS Kelas 1 Askes Harapan kita


-

Author

Follow Me