Melahirkan di RSAB Harapan Kita menggunakan JKN BPJS (askes dulunya) 1

17 May 2014

note : karena banyak respon dan pertanyaan ke email mengenai penggunaan askes/bpjs di harkit, ada baiknya sebelumnya perlu saya informasikan (sesuai apa yg sy ketahui pastinya he he). pada dasarnya pelayanan bpjs jkn diutamakan di faskes pertama(puskesmas/dokter keluarga), jika faskes pertama tidak sanggup menangani baru dirujuk ke rumkit type c/b seperti rsud, nah jika msh tdk sanggup menangani baru dirujuk ke rumkit lebih besar/skala nasional. jadi jika kehamilannya tdk ada mslh dan normal2 saja maka kelahiran akan diarahkan di faskes pertama atau rsud dilayani bidan, jika hrs induksi atau tindakan, baru ditangani dokter atau dirujuk,. untuk kasus darurat smua rumkit yg kerjasama dg bpjs dpt melayani pasien namun tetap dlm 2 hari harus mengurus rujukan dll).

Dari sejak ketauan positif alias hamil (bahkan sejak promil he,he) saya selalu kontrol ke RSAB Harapan Kita. Sangat familiar dengan klinik melati atau klinik infertilitas dimana saya mulai menginjakkan kaki disana tahun 2009 dan hampir 4 tahun tiap bulannya saya tidak pernah absen ‘berkunjung’ kesana. Ketika ikhtiar dan do’a kami dikabulkanNya, saya pun masih berniat dan tetap ingin kontrol di Harkit. Entah kenapa meski sempat mencoba promil di rumkit H*rmina, dan rumkit F*atmawati, saya sepertinya lebih memilih untuk kontrol kehamilan di Harkit. Selain Dokter yang komunikatif dan tidak buru-buru, suasana rumkitnya juga tidak terlalu ramai dan ‘aroma’ rumkit dengan obat-obatan seperti rumkit biasanya juga tidak terlalu berasa disini. Masalahnya cuma satu, jauh dan macetttt.

Teringat pengalaman kami periksa di H*rmina, berbekal nama Dokter yang terkenal/direkomendasikan di salah satu forum diskusi di internet, kami mendaftar tuk konsult, alhasil nomor antrian yang kami dapatkan pun, selalu diatas 20. Dan tak sebanding dengan lama antrinya, di ruang konsult tak lebih dari 2 menit kami seakan sudah ‘diusir’ dengan dokter segera memberi salam dan mengucapkan semoga berhasil.

Saat pertama positif kami periksa di klinik flamboyan Harkit. Dengan tiket yang ‘hanya’ 50 ribu, dokter yang melayani ramah dan komunikatif, hanya saja untuk usg kami harus ke klinik anyelir dan antri lagi. Oiya, di klinik flamboyan kita tidak bisa memilih dokter karena dilayani oleh tim dokter, jadi kita akan ketemu dengan dokter yang sedang jaga, namun jika kita tahu jadwal praktek dokter di klinik ini, pada jam dan hari apa, maka dengan kontrol pada hari dan jam tersebut kita akan ketemu dengan dokter yang sama. Dokter yang ada di klinik flamboyan merupakan dokter yang sama dengan dokter di klinik anyelir.

Karena ingin kontrol dengan dokter yang biasa menangani di klinik melati, maka untuk kontrol selanjutnya saya memilih kontrol di klinik anyelir. Karena jadwal praktek dokternya tertentu dan kita bisa kontrol dengan dokter yang diinginkan. Untuk kontrol Berikutnya kami memilih tuk kontrol dengan Dr. Gde Suardana, SpOG. Pilihan kami mengarah ke beliau, karena selama tahun2 terakhir promil di melati kami lebih sering ditangani beliau (meski di klinik melati dokternya tim), dokternya juga sabar menjawab pertanyaan saya yang lumayan bawel, komunikatif, detail dan tidak buru-buru. Selain itu saat saya positif hamil, dan sempat bertemu beliau saat cek darah ternyata tidak cuma kami yang berbahagia, beliau juga tampak bahagia dan berulangkali berucap alhamdulillah.

d97de69a69c48aa0fc67b11e7410dc75_image

Ruang tunggu klinik anyelir

Berbulan-bulan kontrol di klinik anyelir, yang notabene klinik swastanya harkit, otomatis kami tidak pernah menggunakan fasilitas askes yang sekarang sudah membaur menjadi JKN BPJS. Tuk menggunakan fasilitas itu kami harus mendapat rujukan ( karena alasan medis) dari puskesmas, RS type c/b dan baru bisa berobat di Harkit. Hal ini saya rasa mustahil karena kehamilan saya tidak bermasalah.

Mendekati HPL atau hari perkiraan lahir, mulai kepikiran untuk melahirkan dengan menggunakan fasilitas BPJS, tapi masalahnya jika menggunakan fasilitas tersebut hampir mustahil saya dapat melahirkan di Harkit. Untuk mengobati penasaran, kami sempat bertanya ke petugas BPJS yang ada di Harkit, jawaban yang kami dapatkan adalah untuk kasus lahiran normal BPJS tidak dapat digunakan di Harkit, karena Harkit merupakan rumkit rujukan nasional type A, namun jika karena alasan medis dan mendapat rujukan dari rumkit sekelas RSUD maka BPJS dapat digunakan. Petugas juga menambahkan bahwa meski ‘ngantor’ di harkit mereka sekarang sudah tidak bisa berobat atau melahirkan di Harkit, per 1 Januari 2014 tepatnya saat askes membaur jadi BPJS.

Karena penasaran dengan sistem askes yang baru, ditambah dengan banyaknya komplen2 tentang BPJS di media, saya mencoba meminta rujukan untuk periksa hamil ke puskesmas. Entah karena memang usg -nya sedang tidak bisa atau bagaimana, saat saya bilang minta rujukan untuk usg, bidan di puskesmas langsung memberikan rujukan.

Puskesmas

Ruang tunggu KIA puskesmas Rabun (rawa buntu)

Langsung periksa ke rumkit yang dirujuk, di usg dan hasilnya tidak jauh berbeda dengan di harkit. Setelah selesai, ternyata kami tidak mendapatkan “report” seperti print-an usg ato apalah itu, jadi info yang kami dapat hanya info yang kami dengar waktu dokter menyampaikan di ruang konsult. Tapi karena gratissss, jadi saya tidak terlalu komplen he,he

88139c575cab347a243f027b098c3f0a_image

Poliklinik RS Sari Asih

Memasuki bulan ke 7 sempat kepikiran tuk pindah kontrol ke rumkit yang lebih dekat jaraknya dengan rumah. Karena khawatir proses melahirkan yang emergensi. Ketika menyampaikan kekhawatiran kami ke dokter, dokter mengatakan bahwa tuk anak pertama, dari tanda-tanda akan melahirkan, masih butuh waktu sekitar 16 jam menuju proses lahiran sesungguhnya, sehingga kekhawatiran itu tidak perlu terlalu difikirkan. Namun untuk kasus emergensi memang yang lebih realistis memilih rumkit yang terdekat. Akhirnya kami pun sedikit lega dan tetap memilih tuk melahirkan di harkit, kecuali kasus emergensi.

Saat memasuki bulan ke 9 kehamilan, kembali saya meminta rujukan ke puskesmas, dengan asumsi surat rujukan berlaku sebulan, maka akan dapat digunakan saat melahirkan nantinya. Periksa di rumkit yang dirujuk, dengan dokter yang sama dengan hasil yang tidak jauh berbeda dengan di Harkit. Setelah usg dokter mengatakan kalo janin sudah siap lahir dan tinggal menunggu ‘mules’. Saat detik2 terakhir, suami memulai pembicaraan mengenai sejarah hambatan2 waktu promil serta tindakan2 yang pernah dijalani, tak lupa buku kontrol di melati kami bawa. Dokter membaca dan tampak mengangguk2. Setelah dokter membaca, misua bertanya ke dokter, “Dok, berhubung kami punya fasilitas askes, kira2 untuk kasus kami serta tindakan2 yang telah kami jalani di Harkit, memungkinkan ga’ Dok tuk bisa melanjutkan kontrol dan melahirkan di Harkit”, Dokter langsung menjawab, iya sebaiknya Ibu tetap di rawat di Harkit mengingat tim dokter disana sudah tau banyak tentang kasus Ibu. Dan beliau segera membuat rujukan, namun sebelumnya dokter juga bilang kalo beliau tidak tau pasti apakah dari rumkit tersebut dapat langsung merujuk ke Harkit. Selanjutnya di “counter” BPJS surat rujukan di cap dan ternyata dari rumkit tersebut bisa langsung ke Harkit, Horrayyy….. Bahagia dulu meski belum tau harkitnya menerima ato tidak.

Mendekati waktu lahiran, dengan bekal surat rujukan yang sudah ada, kami sempat bertanya ke dokter, mengenai beda atau tidak pelayanan operasi dll tuk melahirkan bagi pasien askes, asuransi perusahaan dan umum. Pertanyaan ini sangat penting bagi kami karena khawatir jika menggunakan BPJS maka keselamatan saya yang akan melahirkan dipertaruhkan. Jawaban dari dokter sangat membuat kami lega, menurut beliau urusan administrasi bukanlah urusan beliau, karena dokter dan tim akan bekerja sesuai prosedur yang ada dengan alat dan bahan yang sama, ruangan pun sama, jadi tidak ada beda antara pasien BPJS, asuransi ataupun umum, Kami akan selalu melakukan yang terbaik, ujar beliau. Syukurlah, setidaknya meski banyak yang komplen mengenai layanan rumkit tuk pasien BPJS di tempat2 lain, saya percaya kalo dokter yang menangani saya tidak akan bohong dalam hal ini.

Tanggal 26 April 2014, merupakan jadwal kontrol mingguan saya, mingguan karena sudah mendekati HPL. Dijadwalkan tuk CTG sebelum konsult, dan setelah di usg ternyata ketuban saya sudah berkurang banyak, diperiksa aliran plasenta juga sudah tidak lancar karena terjadi pengapuran. Dibandingkan minggu kemarin, berat janinjuga tidak bertambah. Dokter menyarankan agar segera dilahirkan, dikhawatirkan dapat membahayakan janin jika ketuban smpai habis serta janin juga akan kekurangan nutrisi karena aliran di plasenta sudah tidak lancar. Dokter memberi pilihan SC hari itu atau direncanakan senin, namun untuk senin beliau juga tidak yakin ketuban akan tidak berkurang volumenya. Akhirnya kami memutuskan tuk SC hari itu alias SC cito.

selanjutnya bersambung keMelahirkan di RSAB Harapan Kita menggunakan JKN BPJS (askes dulunya) 2


TAGS Hamil kontrol Harkit BPJS


-

Author

Follow Me